Rabu, 04 Juli 2012

Merekam Jejak Keluarga Teuku Markam

Hotel Aceh


Nama Teuku Markam memang seperti lenyap dalam sejarah pembangunan Monas. Furqon menggeleng ketika mendengar nama Teuku Markam. Mahasiswa semester dua di Universitas Indraprasta, Jakarta, itu memicingkan mata, mempertanyakan kesahihan cerita, bahwa Teuku Markam itu saudagar kaya asal Aceh yang menyumbang 28 kilogram emas buat Monas.

”Soekarno saya tahu, kalau Markam, saya baru dengar,” kata dia seperti yang dilansir merdeka.com di museum diorama perjuangan kemerdekaan Monumen Nasional (Monas), pertengahan bulan lalu.

Annisa, pengunjung lainya berkata, sejak duduk di sekolah dasar hingga mahasiswa, belum pernah ada guru atau dosen bercerita tentang Markam. Bahkan Nursamin, bagian Informasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Monas, pun mengaku tak tahu Markam adalah saudagar kaya penyumbang emas itu.

Menurut dia, ada banyak versi sejarah pembangunan monumen yang menjadi ikon Ibu Kota Jakarta ini. Setahu dia, dalam sejarah, nama Soekarno paling populer sebagai pemrakarsa pembangunan. Ide dasarnya dari Sarwoko Martokusumo. Ada pendapat berbeda, gagasan pembangunan Monas juga dari Soekarno.


Soekarno

”Tapi kalau nama Markam saya tidak tahu,” ujarnya.

Anhar Gonggong, sejarawan dari Universitas Indonesia, mengaku tidak tahu soal kebenaran bahwa Markam adalah saudagar kaya yang menyumbang emas buat Monas. Namun demikian, berdasar cerita sejarah, ia membenarkan jika Markam dekat dengan Soekarno. Bersama dua saudagar kaya lain, Aslam dan Panggabean, mereka orang-orang kaya pada masa pemerintahan presiden pertama itu.

Tapi setelah Soekarno lengser dan pemerintahan berganti kepada rezim Soeharto, orang-orang kaya itu ada yang bertahan, ada juga yang namanya tenggelam. Markam, termasuk orang kaya yang disisihkan.

”Pada rezim Orde Baru, harta Markam dirampas oleh Soeharto.” tuturnya. Namun dia enggan bercerita penyebabnya.

”Jujur, saya kurang paham kalau soal Monas ini dan Markam ini.”

Yuke Ardiati, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya dan Tim Pemugaran Monumen, mengaku pernah membaca cerita tentang Markam yang menyumbang emas untuk Monas di Internet. Dia juga sempat mendengar dari beberapa orang. Namun hingga kini dia belum mendapatkan bukti-bukti yang membenarkan cerita itu. Belum ada saksi mata proses penyerahan emas dan bukti kuitansi.

”Andai benar, ada atau tidak saksi mata peleburan emas sampai proses pelapisan pada lidah api, jangan-jangan emasnya tidak dipakai?” ujarnya.

Merdeka.com yang menelusuri jejak keluarga Markam tidak mendapat banyak informasi. Dimulai dari rumah kediaman Teuku Syauki Markam, salah satu putra saudagar Aceh itu, di Jalan Bhakti Nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu. Rumah tembok itu berdiri di halaman bekas pabrik PT Markam Jaya. Indah Yuliarti, istri dari Syauki, menolak menjelaskan soal Markam dan Monas.

”Silakan tanya bapak saja, itu sejarah masa lalu. Saya tidak bisa, takut salah,” kata dia.

Dia lantas menunjukkan alamat kantor suaminya di kompleks rumah toko (ruko) PT Superindo, Jalan Hayam Wuruk nomor 103 H, Jakarta Pusat. Salah satu ruko tua; cat putihya memudar menjadi kekuning-kuningan, itu adalah kantor pemasaran tempat Syauki Markam bekerja selama satu dasawarsa. Ruang kantor yang disekat-sekat dengan triplek ini berada di lantai dua. Lantai dasar digunakan sebagai kantor notaris.

Sofa hitam khusus tamu dibiarkan berdebu. Menurut sekretarisnya, Mungkiatun, perusahaan Syauki bergerak pada bidang penyewaan gedung kantor dan gudang. Di situlah klien-klien bosnya datang. Sayang, Syauki tidak bisa ditemui. Mungki mengatakan, bosnya sedang pergi ke luar kota. Dia tidak bisa memastikan kapan si bos kembali.

“Kadang tidur di kantor, kadang tidur di hotel,” kata dia.

Mungki mengaku hafal betul perilaku bosnya yang tidak pernah bisa dihubungi itu. Dia lantas memberi dua nomor telepon. Benar saja, hingga berita ini diturunkan, beberapa kali nomor Syauki dihubungi tidak diangkat. Begitu juga pesan pendek minta wawancara tidak dibalas, dilansir merdeka.com.

”Bapak tidak pernah bisa dihubungi. Kalau ada yang penting, biasanya dia menelepon ke kantor,” kata Mungki.

                                                                  ***

Siang itu matahari serasa sejengkal dari kepala ketika seekor kerbau betina mengaso di samping pintu belakang rumah Teuku Syauki Markam. Kerbau itu milik Syauki, salah satu anak dari saudagar kaya asal Aceh, Teuku Markam, yang konon termasuk orang terkaya di Indonesia pada era Soekarno. Dari luar, sepintas rumah Syauki seperti tanpa penghuni. Lengang. Pintu depan dan belakang rumah tembok bercat putih yang sebagian warnanya berubah kecoklatan itu terkunci.

Monas


Bau tengik dari kubangan lumpur bercampur tahi kerbau yang jaraknya kira-kira sedepa dari sekat tembok belakang rumah Syauki menyengat hidung. Setelah beberapa kali merdeka.com mengetuk pintu belakang rumah, Indah Yuliarti, istri Syauki, akhirnya membuka pintu. Tapi saat ditanya soal sejarah keluarga Markam, dia menolak bicara.

”Silakan tanya bapak saja,” kata dia saat ditemui di rumahnya itu, Jalan Bhakti nomor 48, Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bulan lalu.

Besoknya, tempat kerbau itu berubah menjadi tempat parkir mobil Volvo hitam buatan Swedia. Menurut Anton, warga sekitar, mobil itu biasa dikendarai Syauki. Namun saat pintu rumah diketuk, justru Putri, anak ketiga Syauki, yang muncul. Putri mengatakan bapaknya tidak ada di rumah. Saat merdeka.com bertanya soal sejarah Markam, dia memberi penuturan mirip ibunya.

”Silakan tanya bapak saja. Nanti saya salah bicara, bapak bisa marah-marah.”

Tapi dari Putri ada sedikit cerita. Menurut dia, sudah belasan tahun keluarga Markam berpencar ke mana-mana, ada yang tinggal di Aceh, beberapa lagi di Jakarta. Kakeknya, Markam, memang memiliki lebih dari dua istri. Syauki adalah anak dari salah satu istri tua Markam. Menurut perempuan dengan kawat gigi itu, bapaknya memiliki empat saudara kandung.

”Tapi rumah mereka di mana saya tidak tahu, mereka seperti trauma, susah diajak bicara,” ujarnya.

Syauki tidak berhasil ditemui di rumah dan kantornya, komplek rumah toko (ruko) Superindo, di Jalan Hayam Wuruk nomor 103H, Jakarta Pusat. Mungkiatun, pegawai kantor, mengatakan bosnya sedang ke luar kota.

Ketika dua nomor telepon milik Syauki dihubungi, tidak ada jawaban. Menurut Mungki hal itu sudah biasa. Syauki, dia menambahkan, selama ini tidak pernah mau mengangkat telepon dari siapapun, kecuali keluarga dan kantor.

Begitu juga dengan kiriman pesan pendek permintaan wawancara, Syauki tetap tidak membalas. Tapi Mungki sempat bercerita ihwal perjuangan keluarga Markam merebut harta keluarga. Syauki, kata dia, sempat dua kali masuk penjara lantaran sengketa kepemilikan lahan dan perusahaan. Pertama, dia ditahan lantaran terbelit kasus jual beli lahan.

”Yang kedua dia dipenjara lagi karena membacok kepala seorang preman gara-gara sengketa lahan,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan Ambarwati, pegawai lain. Dia menyarankan, kalau menemui Syauki hendaknya malam hari, atau lebih dulu membuat janji. Kalau tidak begitu, bosnya sangat sulit ditemui.

Mungkiatun kemudian menghubungkan merdeka.com dengan Cut Martaleta, adik tiri Syauki, yang kebetulan menginap di sebuah wisma tepat di depan kantor. Martaleta adalah anak Markam dari istri yang lain. Namun ketika ditemui, Martaleta juga menolak wawancara.

”Maaf tidak bisa, saya sedang sakit," kata dia.

Akhirnya, melalui pertanyaan singkat lewat pesan pendek, Martaleta bersedia menjawab. Isinya begini:

saya minta disediakan uang Rp 30 juta karena saya jujur dengan Anda, keadaan saya sangat-sangat di bawah standar. Saya minta uang ditransfer di muka, setelah itu kita adakan pertemuan di rumah kakak saya, yang juga ahli waris Haji Teuku Markam.

Toyota Hardtop

Jejak kejayaan Markam memang masih ada. Rumah Syauki di Jalan Bhakti, Cilandak Timur, itu misalnya, berdiri di pojok halaman depan gudang PT Markam Jaya, sebuah perusahaan kontraktor milik Markam pada era Presiden Soekarno.

Konon, Teuku Markam merupakan salah satu saudagar Aceh yang sukses di masanya. Dia sempat membangun infrastruktur di Aceh, termasuk jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, dan Tapaktuan.

Markam juga disebut-sebut memiliki sejumlah dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, dan Palembang. Dia tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor pelat baja, besi beton sampai senjata untuk militer. Orang kaya ini juga disebut-sebut menyumbangkan 28 kilogram emasnya buat pembangunan tugu Monas.

Peran Markam mulai hancur dan runtuh ketika kekuasaan Soeharto semakin besar. Ia pernah ditahan delapan tahun dengan tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Harta kekayaannya dirampas. Dia mencoba bangkit setelah keluar dari penjara, tapi tidak bertahan lama. Pengambilalihan harta Markam ini dibenarkan oleh sejarawan Anhar Gonggong.

”Salah satunya Bank Duta milik Soeharto dulu kemungkinan adalah asetnya Markam.”

                                                             ***

Sumber Kutipan :  http://www.atjehcyber.net/2012/07/merekam-jejak-keluarga-teuku-markam.html

Senin, 25 Juni 2012

Soekarnoisme Tidak Usah Ajari Rakyat Aceh!



BANDUNG, 12 June 2012 | Kompasiana

Aceh, berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia, karenanya tidak perlu memaksakan diri untuk menyamakannya. Rakyat Aceh sudah sangat memahaminya bagaimana membangun dirinya dari berbagai ekses yang terjadi sebagai dampak perlawanan terhadap rezim korup sebelumnya.


Rakyat Aceh sangat memahami bagaiamana karakteristik rejim Orde lama dan juga rejim Orde Baru yang mengkhianati kesetiaan rakyat Aceh, kesetiaan mereka dibalas dengan pengkhianatan sebagaimana susu dibalas dengan tuba. Berbagai konflik terjadi yang menelan korban begitu banyak, yang coba diselesaikan oleh Henry Dunant Center di era Presiden Gus Dur.


Apa yang dirintis Gus Dur disabot oleh rejim selanjutnya pimpinan Megawati Sukarnoputri dukungan kelompok Sukarnoisme.

Upaya-upaya perdamaian yang mulai tampakpun kembali hancur berkeping-keping, Presiden Megawati Sukarnoputri mengobarkan perang terhadap rakyat Aceh sebagaimana dilakukan rejim Orde Lama pimpinan Sukarno sebelumnya. Selain itu kelompok-kelompok Sukarnoisme coba memecah wilayah Aceh sebagaimana mereka lakukan terhadap Papua, namun gagal karena rakyat Aceh sudah bertekas untuk tetap bersatu dan enggan wilayahnya dipecah belah oleh siapapun.

Operasi militer besar-besaran berhasil di akhiri menysul terpentalnya Megawati Sukarnoputri dari kursi kepresidenan, yang kemudian dilanjutkan SBY salah seorang anggota kabinet Gotong royong yang terpental dan bergabung Demokrat yang bersama JK terpilih menjadi kepala pemerintahan selanjutnya. Pada masa SBY upaya perdamaian di Aceh dilanjutkan kembali, yang berhasil mengakhirinya dengan menandatangani MOU Helsinki, 15 Agustus 2005.




MOU Helsinki yang diprakarsai oleh Marty Achtisary, PBB dan EU berhasil mengakhiri konflik yang ditanda tangani oleh pihak GAM dan Indonesia. Konsekuwensinya Aceh memiliki Partai -Partai Politik Lokal, serta pemberlakuan syariat islam di Aceh. Sekali lagi hanya di Aceh, bukan di daerah lainnya.

Dan bagi kelompok yang coba mengutik atik MOU Helsinki sebagaimana yang senantiasa dilakukan oleh kelompok nasionalis sekuler Sukarnois dan Marhenis tersebut, maka perlu menyadarinya bahwa Aceh memang berbeda dengan daerah lainnya. Karena memang latar belakang historis wilayah Aceh jauh berbeda dengan daerah lainnya, sehingga wajar saja jika hal itu bisa membedakannya dengan daerah lainnya.

Soal toleransi beragama di Aceh sudah berlangsung lama, bahkan sejak NKRI belum ada kesultanan Aceh sudah memberlakukannya dengan baik. Sultan Iskandar Muda menghukum mati putranya sendiri karena melakukan perbuatan keji, karena Aceh menerapkan hukum Islam. Ketika Belanda membatalkan perjanjian London dengan traktat Sumatra 1871, lalu menyerang Aceh hingga meletuslah peperangan yang terlama di kawasan Asia, dan nomor dua terlama di dunia.




Ketika perang dunia berakhir Aceh tidak pernah dikuasai kembali oleh Belanda, sehingga tidak termasuk kedalam BFO (RIS) buatan NICA yang selanjutnya menjadi Indonesia sebagai konsekuwensi Konferensi Meja Bundar. Selama Hindia Belanda masih diduduki, Rakyat Aceh menyediakan wilayahnya bagi PDRI seiring membeli pesawat terbang Seulawah yang oleh Indonesia dinamakan RI.001, serta bantuan finasial lainnya bagi Indonesia.

Karenanya Aceh seperti halnya Yogya berbeda dengan lainnya,makanya keduanya memiliki keunikan yang tidak diperoleh daerah lainnya. Ya sudahlah, jangan diungkit-ungkit lagi masa lalu yang luka menganga tersebut, sekarang tepati saja janjinya, urusi saja urusan masing-masing.

Di Aceh tepatnya dekat Mesjid raya Baiturrahman terdapat Gereja, Wihara, yang senantiasa dilindungi oleh rakyat Aceh meskipun dalam keadaan perang sekalipun.


Namun bagi wilayah Aceh ada atau tanpa SKB pun toleransi beragama sudah sejak lama dipraktekkan disana, namun sekitar tahun-tahun berikutnya seiring maraknya PKI di zaman Orde lama-terjadi migrasi non muslim ke Singkil dari Sumatera Utara.

Dalam konteks terjadilah konflik dengan penduduk setempat, tetapi bagi jemaat yang sudah ada sebelumnya bebas menjalankan ajaran agamanya. Gereja mereka dihormati oleh penduduk setempat, akan tetapi melalui strategi khusus untuk memperoleh ijin warga setempat banyak jemaat dari luar Aceh di bawa kesana sehingga menimbulkan konflik. Dan beberapa hari yang lalu aparat keamanan Aceh menangkap dua orang diantara tokoh intelektualnya, dan sudah diserahkan kepada polisi.

Jadi keadaan Aceh yang sudah damai tidak usah diusik-usik lagi, jika enggak  cocok dengan aturan (Qanun) Aceh enggak  apa-apa, memang syariat Islam hanya berlaku di Aceh. Dan jika sekiranya Marhenisme atau Soekarnoisme dan sejenisnya tidak suka, jangan ke Aceh titik!.



Sumber :
Muhammad Nurdin, Bandung, 8 Juni 2012
Guru sejarah dan sosiologi di SMA di kota Bandung.

Sabtu, 09 Juni 2012

Teuku Markam, Nestapa Sang Penyumbang Emas Monas


Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia. Orang-Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu.

Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.

Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer.

Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. 

Tahun 1985 ia meninggal dunia. Aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan hingga kini, ahli waris Teuku Markam masih berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.


Siapakah Teuku Markam ?


Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu, Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

Jenderal Gatot Subroto
Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.

Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.

Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena "disiriki" oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.

Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. 


Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor - impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.

Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme. Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. "Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya," kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.

Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus "pinjaman" yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.

Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen - Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain.

Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam "dianggap" angin lalu. Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang.

"Air susu dibalas air tuba," itulah nasib ayah kami", kata Teuku Syauki mengenai prilaku penguasa Orba. Untuk mengembalikan aset PT Karkam yang dikuasai oleh pemerintah, selaku ahli waris, Teuku Syauki Markam menyurati Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Kekayaan Teuku Markam yang diambil alih itu ditaksir bernilai Rp 40 triliun lebih. 


"Kami menuntut kepada pemerintahan sekarang untuk mengembalikan seluruh aset kekayaan orang tua kami," kata Teuku Syauki Markam. "Seumur hidup saya akan berjuang mendapatkan kembali hak kelurga kami yang telah dirampas oleh pemerintahan Orba," tekad Teuku Syauki yang nampak geram atas tingkah pola kekuasaan Orba yang menyebabkan keluarga mereka menderita lahir batin.

***
Sumber : http://www.atjehcyber.net/2011/07/teuku-markam-nestapa-sang-penyumbang.html

Buku Hasan Tiro: "ATJEH DI MATA DUNIA" Dialihbahasakan


“SETELAH peperangan besar dengan Belanda yang dimulai tahun 1873 dan selesai tahun 1937, tidak ada satu pemimpin Atjèh pun yang hidup, karena semua memilih syahid dalam peperangan daripada hidup menjadi budak Belanda. Teladan ini yang diberikan untuk kita sebagai cucunya, adalah suatu kemutlakan yang tidak bisa dibantah dan tidak perlu menunggu jawaban dari kita...”

Begitulah antara lain penggalan kalimat pada bagian kata pengantar buku “Aceh di Mata Dunia” yang ditulis Teungku Hasan Muhammad di Tiro, tokoh kunci Gerakan Aceh Merdeka yang meninggal pada 3 Juni 2010. Kini, karya fenomenal Hasan Tiro kembali diangkat ke permukaan untuk mengenang kembali jejak dan pemikiran briliannya dalam sejarah pergolakan politik di Aceh.

Di antara banyak buku yang ditulis Hasan Tiro, “Aceh di Mata Dunia” adalah salah satu karya yang masih sedikit diketahui orang, karena ditulis sang proklamator GAM itu dalam bahasa Aceh dengan judul; Aceh Bak Mata Donya.

Baru kali ini buku yang ditulis tahun 1968 itu mulai dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Aceh di Mata Dunia”.

“Proses penerjemahannya sekarang masih berlangsung, untuk bagian kata pengantar sudah siap. Rencananya juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” kata penerjemah buku itu, Haekal Afifa kepada Serambi, Senin (4/6).

Pada Senin kemarin, sejumlah akademisi dan politisi membedah buku Aceh di Mata Dunia (edisi Indonesia) ini dalam sebuah diskusi. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, The Atjeh Ethnic Institute, dan Bandar Publishing.

Ada sejumlah nara sumber yang hadir mengulasnya, seperti penulis dan pengamat sejarah Aceh M Adli Abdullah, Dosen Fakultas Dakwah Baharuddin AR, dan anggota DPRA Adnan Beuransah. Acara itu dimediatori Mukhlisudin Ilyas.

Buku “Aceh Bak Mata Donya”, selain melukiskan sejarah panjang Aceh, kejayaan Aceh pada abad ke-17, juga mengupas keheroikan pejuangannya dalam peperangan melawan Belanda tahun 1873 sampai 1937. Gambaran ini seperti ditulis Hasan Tiro pada salah satu bagian bab kata pengantar buku tersebut.

Hasan Tiro menyebut perjuangan berabad lamanya melawan penjajah merupakan upaya mempertahankan kemuliaan tanah Aceh yang sudah dipertahankan secara turun temurun oleh para raja Aceh dahulu. Tapi, dalam bukunya itu Hasan Tiro sempat menyiratkan keresahannya setelah peperangan besar dengan Belanda tahun 1873-1937, yakni tidak ada satu pemimpin Aceh pun yang hidup.

“Semua pemimpin kita sudah syahid dalam perang Belanda-Atjèh. Kita yang lahir setelah peperangan sudah hilang hubungan dengan generasi sebelum perang. Baik hubungan politik, sejarah, maupun adab. Generasi sekarang sudah hilang pedoman hidup (meuneumat). Tidak ada lagi tali hubungan yang bisa menyambung kita dengan generasi di masa lalu, generasi pemberani yang syahid serta buku-buku yang sudah dibakar oleh penjajah,” sebut pria yang lazim disapa “Wali” itu.

Kepada generasi Aceh, dia menyebut hidup di dunia bukan sekadar hidup. Hidup adalah sebuah kemuliaan. Lebih baik mati daripada hidup sebagai budak bangsa lain.

“Risalah Atjèh di Mata Donja ini saya tulis untuk generasi muda Atjèh sekarang, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagai jembatan yang bisa menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Sebagai sambungan dari tali hubungan yang telah putus agar generasi Atjèh paham seperti apa negara yang sudah dibangun dan dipertahankan oleh nenek moyangnya dulu. Seperti apa kemuliaan yang sudah diraih dan bagaimana Atjèh diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di muka Bumi,” tulis Hasan Tiro.

Menariknya, buku ini lahir dari hasil beberapa catatan penting tentang Atjèh yang ditulis oleh orang Eropa, Amerika dan juga catatan-catatan penting lain yang ditulis dalam bahasa Inggris, Portugis, Prancis, Jerman, Belanda, Italia, dan Arab yang diperoleh Hasan Tiro melalui penelitian di Museum Lisabon, Madrid, Paris, London, Istanbul, New York, dan Washington.

Menurut rencana, Buku Aceh di Mata Dunia ini akan diterbitkan pada 25 September 2012 oleh Bandar Publishing Banda Aceh.

Sumber : Serambinews.com

Jejak Sejarah Aceh di Kota Salem, Amerika Serikat (1653 M)


"...Seperti tersembunyi dibalik debu sejarah, tidak banyak yang tahu bahwa Aceh dan Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat mempunyai hubungan yang sangat erat di masa lampau..."

Oleh Abdul Razak M.H. Pulo (*

Terkhusus dalam hal perdagangan lada. Sanking eratnya, hingga logo Kota Salem pun menggunakan simbol-simbol Aceh. Benarlah Aceh punya sejarah gilang gemilang di masa lalu.

Berawal dari sebuah tag di Facebook oleh teman saya, Safar Manaf, saya tertarik menelusuri lebih lanjut bagaimana hubungan antara Aceh dengan Salem. Atau lebih layak dikatakan hubungan Aceh dengan Amerika Serikat pada waktu itu, mengingat hal-hal yang terjadi di kemudian hari melibatkan Pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden Jackson.

Safar Manaf dalam blognya menulis secara singkat mengenai sejarah Kota Salem. Uraian sejarah tersebut bisa diakses dengan mengklik tab “City Seal” (lambang kota) - *disni] pada website kota Salem. Berikut adalah terjemahan versi Safar Manaf terhadap teks tersebut:

“Pada tahun 1654 (Masa pemerintahan Sultanah Safiatu'ddin), Elihu Yale mengirim dua karyawannya ke Atjeh, kerajaan merdeka termegah di Sumatera, untuk menjalankan perdagangan lada. Muatan lada terakhir memasuki Salem, Massachusetts dari Sumatera pada 6 November 1846 (Masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syah), diangkut oleh kapal Lucilla. Salem telah memegang peranan utama dalam perdagangan lada sejak Pemimpin Salem memulai bisnis ini. Begitu pentingnya posisi Salem saat itu, seratus tahun (se-abad) kemudian, orang-orang di Australia masih menyebut biji merica dengan panggilan “lada Salem”.

Lambang Kota Salem, Massachusetts
Kenyataannya, Jika kita menelisik kembali lambang kota Salem, kita akan menemukan gambaran seorang Atjeh.

Pada puncak perdagangan lada, Dewan Kota memerintahkan untuk menciptakan sebuah segel yang menggambarkan “Sebuah kapal yang sedang berlayar, mendekati pantai yang digambarkan dengan seseorang yang berdiri di antara pepohonan di mana kostumnya menunjukkan wilayah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur", motto ‘Divitis Indiae usque ad ultimum sinum’ … yang berarti “Menuju pelabuhan terjauh di Timur yang kaya…”

George Peabody, anak dari pedagang lada yang disegani, dan dia sendiri juga memiliki kapal pengangkut lada, melukis desain seorang pria memakai serban merah rata, celana panjang merah dan ikat pinggang merah, jubah kuning sebatas lutut dan baju luar warna biru. Tidak ada masyarakat lain di Hindia Timur yang memiliki pakaian semirip ini yang lebih mendekati selain masyarakat Atjeh, dan mungkin itulah maksudnya.

Hanya dokumen resmi kota Salem yang dibenarkan memakai Lambang kota tersebut. Adalah termasuk pelanggaran hukum Negara dan Peraturan Lokal, jika memakai lambang ini pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan urusan resmi Kota Salem. Pegawai Kota adalah penjaga Emblem Kota.

Perdagangan, bisnis, di manapun dan kapanpun ternyata menyimpan intrik-intrik yang bisa menghancurkan hubungan yang terbina baik sejak lama. Keinginan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan politik dagang telah membuat hubungan Aceh dan Amerika Serikat retak.

Salem Harbor, oil on canvas, Fitz Hugh Lane, 1853.Museum of Fine Arts, Boston. 

Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan rata dengan tanah. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.000 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu di Pelabuhan Kuala Batu, Susoh.

Dudley L. Pickman (1779–1846)
Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh.

Pada 7 Februari 1831 kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh, berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan.

Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada.

Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.

Andrew Jackson for President U.S in 1822
Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dinakhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Kejadian ini membuat kerugian besar di pihak Amerika Serikat dan beberap kru kapal tewas di tangan perompak. Hal ini menyebabkan kemarahan besar di pihak Amerika.

Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.

Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick, komandan kapal perang terbaik Amerika saat itu, Potomac, membumihanguskan pelabuhan Kuala Batee, Susoh, Aceh Barat dibawah perintah langsung Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson.

Bagaimanapun, hubungan Kerajaan Aceh dengan Amerika Serikat sudah terbina sejak lama. Dan bukti nyata hubungan tersebut terpatri dalam logo Kota Salem, Massachusetts. Akankah sejarah kejayaan “lada” Aceh kembali terulang? (*/tgj.co.id)

Penulis seorang dokter asal Aceh yang sedang menjalani PPDS Ilmu Penyakit Dalam FK Unsri, Palembang.

Referensi:
1. http://culacalo-tuleih.blogspot.com/2012/04/aceh-emblem-kota-salem.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Salem,_Massachusetts
3. http://www.salem.com/pages/index
4. http://www.salemweb.com/community/city.shtml
5. http://www.terbaca.com/2011/09/kisah-serang-usa-ke-aceh.html

Sumber :  http://www.atjehcyber.net/2012/05/jejak-sejarah-aceh-di-kota-salem.html

SEULAWAH RI 001




Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.

Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Sejarah
KSAU Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma memprakarsai pembelian pesawat angkut. Biro Rencana dan Propaganda TNI-AU yang dipimpin oleh OU II Wiweko Supono dan dibantu oleh OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai pelaksana ide tersebut.

Kisah yang tercecer
Pesawat Seulawah RI-001 merupakan bukti nyata dukungan totalitas yang diberikan Aceh dalam proses persalinan republik ini. Seulawah RI-001 yang merupakan cikal bakal Garuda Indonesia Airways, merupakan instrumen paling penting dan efektif dalam tahap paling awal perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pada sebuah jamuan makan malam, saat kunjungan nya ke Aceh, tanggal 16 Juni 1948 yang diselenggarakan oleh Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida), di Hotel Atjeh, Banda Aceh, Presiden Soekarno angkat bicara, “saya tidak akan makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul”

Peserta pertemuan yang terdiri atas saudagar dan tokoh masyarakat Aceh saling melirik. Lalu, salah seorang dari mereka bangun. Seorang pria muda berusia sekitar 30 tahun. Dia saudagar. Namanya M Djoened Joesof. “ saya bersedia”,sahut Djoened Joesof yang juga menjabat ketua Gasida. Selanjutnya menyusul kesediaan saudagar lainnya. Alhasil malam itu terkumpul dana yang cukup besar. Presiden Soekarno puas dengan menyungginggkan senyum. Ia lalu mengajak hadirin beranjak ke meja makan.

Adegan jamuan makan malam itu merupakan bagian penting dari episode keikhlasan rakyat Aceh mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat terbang. Penulis Sejarah, Tgk AK Jakobi mencatatkan peristiwa itu dalam bukunya “Aceh Daerah Modal” (Yayasan Seulawah RI-001, 1992)

Dalam pidatonya di sebuah rapat akbar di Lapangan Blang Padang Banda Aceh, keeseokan harinya, 17 Juni 1948, Soekarno menyatakan hal itu.” Kedatangan saya ke Aceh ini khusus untuk bertemu dengan rakyat Aceh, dan saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Aceh untuk menyelamatkan Republik Indonesia ini,” begitu katanya memohon kesediaan Rakyat Aceh untuk terus membantu Indonesia. Di Blang Padang itu pula ia kemudian berujar tentang kontribusi Aceh sebagai daerah modal terhadap berdirinya Indonesia. “Daerah Aceh adalah daerah modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat Aceh, seluruh wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali,” ungkap Soekarno bersemangat.

Ketika Soekarno mengakhiri kunjungannya di Aceh pada 20 juni 1948, dana yang terkumpul untuk pembelian pesawat itu berjumlah 120.000 dollar Singapura dan 20 kg emas. Dana tersebut dihimpun dari masyarakat Aceh oleh Panitia Dana Dakota (Dakota Found) di Aceh yang dipimpin HM Djoened Joesof dan said Muhammad Alhabsyi.

Opsir Udara II Wieko Soepono yang ditugasi membeli pesawat dari hasil sumbangan rakyat Aceh tersebut. Selang tiga bulan kemudian, pesawat berhasil didapatkan, jenis Dakota milik seorang penerbang Amerika Mr JH Maupin di Hongkong. Pesawat dengan kode VR-HEC itu mendarat di Maguwo Padang dan kemudian diregistrasi RI-001. Adalah Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama “Seulawah” pada pesawat tersebut.
Pada jamuan makan malam dengan pengusaha Gasida di Hotel Atjeh itu, Presiden Soekarno, Seperti dikutip H.Muhammad TWH dalam satu artikelnya dari buku “Modal Perjuangan Kemerdekaan” yang ditulis TA Alsya, menyampaikan pidato antara lain berbunyi, “Harga satu pesawat Dakota hanya M$ 120.000. Saya belum mau makan sebelum mendapat jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’,” kata Soekarno, yang berhasil membakar semangat para saudagar itu.

Lalu berkat keikhlasan dan ketulusan rakyat Aceh itulah, terkumpul dana dan emas yang cukup untuk membeli pesawat Dakota. Pesawat sumbangan Aceh inilah yang kelak menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia Airways. Bulan Juni 1948, Soekarno berkunjung ke Aceh. Dalam suatu pertemuan di Hotel Aceh, 16 Juni 1948, Bung Karno berkata, “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk memperkuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau.” Hanya dalam hitungan jam setelah Bung Karno menyatakan hal itu, pengusaha-pengusaha Aceh yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) menggelar pertemuan khusus. Mereka sepakat rakyat Aceh akan bersatu mengumpulkan uang dan segala perhiasan emas perak untuk membeli pesawat. Para perempuan Aceh melepas cincin, kalung, anting, dan segala perhiasan emas peraknya yang kemudian dikumpulkan untuk ditukar dengan uang. Uang itulah yang digunakan untuk membeli pesawat yang diberi nama Seulawah. Dalam waktu dua hari terkumpul dana sekitar 130.000 Straits Dollar (Dollar Singapura). Ketua Gasida, Muhammad Juned Yusuf, beserta beberapa anggota Panitia Dana Dakota pada tanggal 1 Agustus 1948 segera berangkat ke Singapura dengan membawa dana tersebut dan emas seberat dua kilogram.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas".

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.

Di Kutaraja, pesawat tersebut digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 pesawat digunakan untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi.

Pada awal Desember 1948 pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja dan pada tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry. Perjalanan ke Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar).



Petualangan Seulawah
Seulawah RI-001 di parkir di halaman Anjungan Aceh TMII sejak 1975. Tak banyak yang tahu bahwa pesawat itu adalah replika (tiruan ). Sebenarnya ada tiga replika pesawat seulawah RI-001 yang dibuat. Salah satunya yang berada di TMII itu. Satu lagi ditempatkan di Lapangan Blang Padang Banda Aceh sebagai monumuen. Replika terakhir adanya di Museum Ranggon, Myanmar. Pemerintah Myanmar merasa berutang budi kepada Seulawah karena telah ikut menjadi pesawat angkut di negara itu pada 1949. Di negeri itulah untuk pertama kali pesawat yang diregistrasikan RI-001 dikomersialkan pada Pemerintah Birma yang ketika itu sedang menghadapi pemberontakan dalam negeri. Selesai mendapat perawatan di Calcutta,India, seulawah diterbangkan menuju Ranggon, Burma, pada 26 Januari 1949 dan langsung mendapat tugas penerbangan sebagai pesawat carteran dan terlibat dalam berbagai misi operasi militer di negara tersebut. Kegiatan usaha carter pesawat tersebut dilembagakan dan menjadi satu perusahaan penerbangan yang diberi nama Indonesian Airways. Inilah perusahaan penerbangan pertama milik Indonesia yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi Garuda Indonesia Airways.

Selain sebagai pesawat angkut pertama milik Indonesia, Seulawah RI-001 juga sempat menjalani tugas rahasia menyelundupkan senjata, amunisi dan alat komunikasi dari Burma ke Aceh, dengan satu kode melalui pesan radio “….pintu rumah Blangkejren sudah selesai tetapi membawa minuman sendiri….”. yang diterima pimpinan Seulawah RI-001, Opsir Udara (OU) Wiweko Soepono. Itu artinya, bahwa “senjata sudah siap diangkut dan mendarat di Blang Bintang dengan membawa bensin udara sendiri”.

Misi rahasia yang dipimpin Wiweko Soepono ini berhasil sukses. Seulawah mendarat mulus pada malam hari di Blang Padang dengan panduan cahaya obor dan lampu mobil ke landasan. Peristiwa penting ini terjadi pada 8 Juni 1949. senjata yang diselundupkan jenis Brend Inggris. Selang beberapa waktu kemudian dilakukan penyelundupan kedua kali dengan sasaran pendartan di Lhoknga. Senjata yang dibawa adalah Brend Inggris 6 buah, cadangan laras senjata 150 pucuk dan amunisi. Penyelundupan yang kedua ini pun dilakukan pada malam hari.

Selain dari pada tugas komersil dan penyelundupan senjata, pesawat yang disumbangkan lewat pengumpulan harta pribadi rakyat Aceh ini juga mengatar Indonesia berhasil menembus blokade tentara pendudukan kolonial. Seulawah RI-001 ini lah yang juga membawa tokoh-tokoh bangsa ke dunia Internasional untuk membangun dan menjalin hubungan internasional guna menghasilkan pengakuan dan dukungan kepada Republik Indonesia dalam perjuangan menghalangi nya kembali kolonialisme.

SMN di Seulawah

Biro tersebut kemudian menyiapkan sekira 25 model pesawat Dakota. Kemudian, Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti Presiden Soekarno ke Sumatra dalam rangka mencari dana.

Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas".

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.

Di Kutaraja, pesawat tersebut digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 pesawat digunakan untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi.

Pada awal Desember 1948 pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja dan pada tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry. Perjalanan ke Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar)


Monumen
Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan, beberapa jenis pesawat terbang generasi tua pun dinyatakan berakhir masa operasinya. Salah satunya adalah jenis Dakota.

Namun, karena jasanya yang dinilai besar bagi cikal bakal berdirinya sebuah maskapai penerbangan komersial di tanah air, TNI AU memprakarsai berdirinya sebuah monumen perjuangan pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Banda Aceh.

Pada tanggal 30 Juli 1984, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun meresmikan monumen yang terletak di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya.
Sumber : http://vhourkhanrasheed.blogspot.com/2011/06/seulawah-ri-001.html

Perang Aceh: “Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje”

 
Snouck Hurgronje

Ke Aceh, keraton! Sarang segala kejahatan
Persekongkolan, pembajakan dan khianat berkecamuk
Tumpas semua selingkuh, h ajar si laknat

Dengan sang Tiga Warna Belanda "peradaban" tumbuh ..

BAIT di atas adalah petikan Lagu Militer Belanda Aceh yang diciptakan P. Haagsma pada 1877. Dimaksudkan untuk membakar semangat pasukan Belanda ketika datang ke Aceh dan menumpas "para pemberontak", lagu itu terdengar megah membahana-tapi di lapangan lain ceritanya. Pasukan Belanda sempat bingung menghadapi perlawanan gerilya yang cuma mengandalkan senapan lantak, tombak, dan kelewang.

Wilayah paling barat Hindia Belanda ini memang baru belakangan dilirik. Itu pun akibat keinginan gubernur jenderal memperluas kekuasaan di Pulau Andalas. Wartawan asal Belanda , Paul van 't Veer, dalam bukunya Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, mengungkapkan kekhawatiran Menteri Jajahan Belanda, James Loudon, yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal C.F. Pahud. Loudon menulis, "Saya menganggap setiap perluasan kekuasaan kita di Kepulauan Hindia sebagai langkah menuju keruntuhan kita, dan lebih-lebih pula karena, dalam hal ini, kekerasan itu telah tumbuh melampaui kesanggupan kita." Surat itu ditulis pada 8 Juni 1861.


Tapi Gubernur Jenderal ngotot melancarkan petualangan ke Pulau Sumatera, sambil mencari peluang makin mengisi kas negara. Di luar pengetahuan Gubernur Jenderal, kala itu, Aceh, yang masih dikuasai sejumlah raja, telah lama memiliki kontak dengan dunia luar. Pengaruh kesohoran Pelabuhan Malaka mengimbas pada Aceh, yang menjadikan dirinya wi layah yang terbuka dengan dunia luar.

Mungkin banyak orang tak tahu, perang di Aceh terjadi hingga empat kali. Perang pertama dimulai pada 1873, perang kedua pada 1874-1880, perang ketiga pada 1884-1896, dan terakhir pada 1898-1942. Perang pertama dan kedua bisa dibilang gagal total: Belanda tak menguasai peta dan realitas medan. Padahal, ketika itu, mereka mengerahkan 5.000 prajurit dan pekerja paksa serta 118 perwira. Ada juga soal teknis yang kedengaran sepele tapi berakibat fatal. Tentara Belanda ketika itu baru saja mengganti persenjataan.

Tadinya mereka menggunakan bedil lama, yang pelurunya diisi dari depan, lalu diganti bedil baru, Beaumont mereknya, yang pelurunya diisi dari belakang. Karena penggantian s enjata dilakukan dekat menjelang ekspedisi ke Aceh, para prajurit kekurangan waktu berlatih. Kapal yang digunakan berlayar ke ujung Pulau Sumatera itu pun tak semuanya jempolan. Banyak kapal berusia lanjut, ketel uapnya bocor, terbatuk-batuk, toh dipaksakan mengarungi Samudra Hindia.

Dengan kegagalan dua perang menaklukkan Aceh, Belanda juga mencari strategi lain. Kebetulan, ketika itu, seorang sarjana Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, sedang melakukan penelitian di Pulau Jawa. Doktor teologi dan kesusastraan di Universitas Leiden ini menulis disertasi tentang kesusastraan semitis. Secara praktis ia ahli etnologi, sejarah agama, dan filologi. Ia pernah tinggal enam bulan di Mekah. Pada 1889, ia ke Hindia Belanda untuk mempelajari agama Islam. Ia segera direkrut menjadi penasihat pemerintah untuk bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam.

Pada Juni 1891, Snouck pergi ke Aceh dan menetap beberapa bulan di sana. Snouck berpendapat, untuk menghentikan perlawanan masyarakat Aceh, diperlukan kekuasaan yang sangat unggul, yang sanggup memberikan hak, bahkan kewajiban, kepada orang Aceh terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia Islam. Dengan kata lain, Snouck menganjurkan-dan ini disetujui oleh Van Heutsz, perwira militer yang kemudian menjadi gubernur jenderal pada 1904-1909-Aceh harus diperangi habis-habisan.

Laporan-laporan Snouck Hurgronje membuat pasukan Van Heutsz lebih percaya diri. Mereka jadi tahu seluk-beluk geografi setempat, adat istiadat masyarakat, serta soal ajaran agama yang dianut oleh "raja-raja biadab" (ces princes sauvages) tersebut. Pada 18 98, kapal-kapal perang Belanda kembali membuka layar menuju Pulau Sumatera. Sayang, rasa percaya diri yang tinggi dan pengetahuan memadai tak cukup untuk menaklukkan Aceh.

Banyak korban jatuh di pihak Belanda. Belum lagi kerugian ekonomi akibat perang. Selama setengah abad bertarung dengan Aceh, lebih dari 100 ribu orang mati dan 500 juta gulden terbuang percuma. Pers di Batavia pun turut mencibiri kegagalan itu. Mengapa duet Van Heutsz-Snouck tak berjaya? Seorang mantan Gubernur Aceh yang juga bekas opsir militer, C. Deykerhoff, pernah menulis keraguan atas strategi yang dikembangkan Snouck.

"Andaikata Dr. Snouck Hurgronje mengenal watak para gerilyawan... (yang) sangat mengenal medan dan jarang sekali memberi kita kesempatan memukulnya," tulisnya, "Memukul gerilyawan, sedapat mungkin dengan menghindarkan terlibatnya penduduk walaupun ada di antaranya yang bersikap ragu-ragu, seperti yang diinginkan oleh Dr. Snouck Hurgronje, adalah khayal belaka."


Paul van 't Veer mengungkap pula nama R.A. Kern, pejabat penasihat untuk urusan bumi putra dan golongan Arab, yang juga mengkritik kebijakan Snouck. Kern mengatakan, Snouck keliru karena strateginya justru memperkukuh kekuasaan kaum uleebalang untuk melawan kaum ulama fanatik. Snouck berpikir, dengan menguasai kaum ulama, Belanda bisa menguasai Aceh-tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Namun Snouck tak sela manya kalah. Dalam pertarungan di Tanah Gayo dan Alas, ia membuktikan bahwa hasil studi ilmiahnya bisa dipakai untuk kepentingan militer Belanda. Pada 8 Februari-23 Juli 1914, di bawah pimpinan Letkol G.C.E. van Daalen, pasukan Belanda mencoba menaklukkan Tanah Gayo dan Alas. Untuk ekspedisi ini, Gubernur Van Heutsz memilih sejumlah perwira dan brigade terbaiknya.

Berkat studi Snouck, tentara Belanda mendapat pengetahuan yang lebih dari cukup tentang kondisi lembah dan gunung di sekitar Gayo. Pertempuran hebat terjadi dan banyak jatuh korban dari kalangan orang Gayo. Sebanyak 2.902 orang tewas-1.159 di antaranya perempuan dan anak-anak. Belanda kehilangan 26 serdadu, yang mati, dan 70-an terluka.

Kehebatan perang yang dilakukan orang Aceh diakui oleh seorang wartawan Belanda yang juga pernah ikut dalam dinas militer di Hindia Belanda, H.C. Zentgraaff. Pada usia 20 tahun, Zentgraaff masuk ketentaraan dan ditugasi ke Hindia Belanda. Ia ikut dalam ekspedisi ke Jambi pada 1902 dan ke Bone pada 1905. Ia banyak menulis di koran Java Bode, Bataviaasch Nieuwsblad, Nieuws van den Dag, dan Nieuwe Soerabaja Courant, dan sempat menjadi redaktur kepala Java Bode.

Dalam bukunya, Zentgraaff memberikan kesaksian, baik pria maupun wanita di Aceh berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Zentgraaff menulis, "Tentara kita tidak perlu merasa terkicuh oleh muslihat murah dan ejekan hambar pihak lawan yang berkali-kali mengalahkan kita.... Kemenangan kita atas bangsa yang g agah berani ini dengan mutu tempurnya yang gilang-gemilang, yang tidak takut mati itu...."

Zentgraaff juga menulis bahwa "orang Aceh bukanlah orang yang tak tahu membalas budi." Ia berkisah tentang Scheepens, orang Belanda komandan divisi dan sekaligus kepala pemerintahan sipil di Aceh, yang dihormati orang-orang Aceh. Dalam tugasnya sebagai kepala pemerintahan di Aceh, Scheepens memimpin sidang meusapat, pengadilan lokal untuk memutus perkara pemukulan yang dilakukan seorang rakyat Aceh terhadap seorang putra uleebalang. Pasalnya, putra uleebalang ini mengganggu istri penggugat.

Dalam tradisi setempat, kalangan ulama atau masyarakat sebenarnya pasrah jika se orang putra uleebalang bertindak semaunya. Seraya berangkat ke meusapat, Scheepens berkata kepada istrinya, "Tikus ini ada ekornya...." Maksudnya, sang tertuduh, putra uleebalang, punya atribut lokal yang membuatnya berstatus sosial lebih tinggi daripada penggugat. Tapi Scheepens sudah punya putusan. Putra uleebalang tadi harus dihukum tiga bulan penjara.


Sang uleebalang, yang hadir di persidangan, tak menerima putusan itu. Segera ia mencabut rencongnya dan menikam perut Scheepens. Pengunjung sidang marah dan mengeroyok sang uleebalang. Scheepens sendiri berusaha menenangkan massa. Dan dalam masa menanti ajalnya, Scheepens terus ditemani oleh orang-orang Aceh yang setuju dengan sikap adilnya. Bayangan masyarakat Aceh macam ini mungkin tak pernah mampir dalam benak Snouck Hurgronje.

Sumber : http://www.vtemplateblog.blogspot.com/2012/01/perang-aceh-kisah-kegagalan-snouck.html